BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS

Monday, January 23, 2012

Hukum Ucap Hari Natal / Tahun Baru Cina / Deepavali & sebagaiNya

Bolehkah Seorang Muslim Mengucapkan Selamat Natal?
Alhamdulillahi robbil ‘alamin, wa shalaatu wa salaamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Sudah sering kita mendengar ucapan semacam ini menjelang perayaan Natal yang dilaksanakan oleh orang Nashrani. Mengenai dibolehkannya mengucapkan selamat natal ataukah tidak kepada orang Nashrani, sebagian kaum muslimin masih kabur mengenai hal ini. Sebagian di antara mereka dikaburkan oleh pemikiran sebagian orang yang dikatakan pintar (baca: cendekiawan), sehingga mereka menganggap bahwa mengucapkan selamat natal kepada orang Nashrani tidaklah mengapa (alias ‘boleh-boleh saja’). Bahkan sebagian orang pintar tadi mengatakan bahwa hal ini diperintahkan atau dianjurkan.
Namun untuk mengetahui manakah yang benar, tentu saja kita harus merujuk pada Al Qur’an dan As Sunnah, juga pada ulama yang mumpuni, yang betul-betul memahami agama ini. Ajaran islam ini janganlah kita ambil dari sembarang orang, walaupun mungkin orang-orang yang diambil ilmunya tersebut dikatakan sebagai cendekiawan. Namun sayang seribu sayang, sumber orang-orang semacam ini kebanyakan merujuk pada perkataan orientalis barat yang ingin menghancurkan agama ini. Mereka berusaha mengutak-atik dalil atau perkataan para ulama yang sesuai dengan hawa nafsunya. Mereka bukan karena ingin mencari kebenaran dari Allah dan Rasul-Nya, namun sekedar mengikuti hawa nafsu. Jika sesuai dengan pikiran mereka yang sudah terkotori dengan paham orientalis, barulah mereka ambil. Namun jika tidak bersesuaian dengan hawa nafsu mereka, mereka akan tolak mentah-mentah. Ya Allah, tunjukilah kami kepada kebenaran dari berbagai jalan yang diperselisihkan –dengan izin-Mu-
Semoga dengan berbagai fatwa dari ulama yang mumpuni, kita mendapat titik terang mengenai permasalahan ini.
Fatwa Pertama: Mengucapkan Selamat Natal dan Merayakan Natal Bersama
Berikut adalah fatwa ulama besar Saudi Arabia, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah, dari kumpulan risalah (tulisan) dan fatwa beliau (Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin), 3/28-29, no. 404.
Beliau rahimahullah pernah ditanya,
“Apa hukum mengucapkan selamat natal (Merry Christmas) pada orang kafir (Nashrani) dan bagaimana membalas ucapan mereka? Bolehkah kami menghadiri acara perayaan mereka (perayaan Natal)? Apakah seseorang berdosa jika dia melakukan hal-hal yang dimaksudkan tadi, tanpa maksud apa-apa? Orang tersebut melakukannya karena ingin bersikap ramah, karena malu, karena kondisi tertekan, atau karena berbagai alasan lainnya. Bolehkah kita tasyabbuh (menyerupai) mereka dalam perayaan ini?”
Beliau rahimahullah menjawab:
Memberi ucapan Selamat Natal atau mengucapkan selamat dalam hari raya mereka (dalam agama) yang lainnya pada orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama (baca: ijma’ kaum muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah. Beliau rahimahullah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya. Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” –Demikian perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah-
Dari penjelasan di atas, maka dapat kita tangkap bahwa mengucapkan selamat pada hari raya orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan. Alasannya, ketika mengucapkan seperti ini berarti seseorang itu setuju dan ridho dengan syiar kekufuran yang mereka perbuat. Meskipun mungkin seseorang tidak ridho dengan kekufuran itu sendiri, namun tetap tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk ridho terhadap syiar kekufuran atau memberi ucapan selamat pada syiar kekafiran lainnya karena Allah Ta’ala sendiri tidaklah meridhoi hal tersebut. Allah Ta’ala berfirman,
إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ
“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” (Qs. Az Zumar [39]: 7)
Allah Ta’ala juga berfirman,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Qs. Al Maidah [5]: 3)
Apakah Perlu Membalas Ucapan Selamat Natal?
Memberi ucapan selamat semacam ini pada mereka adalah sesuatu yang diharamkan, baik mereka adalah rekan bisnis ataukah tidak. Jika mereka mengucapkan selamat hari raya mereka pada kita, maka tidak perlu kita jawab karena itu bukanlah hari raya kita dan hari raya mereka sama sekali tidak diridhoi oleh Allah Ta’ala. Hari raya tersebut boleh jadi hari raya yang dibuat-buat oleh mereka (baca : bid’ah). Atau mungkin juga hari raya tersebut disyariatkan, namun setelah Islam datang, ajaran mereka dihapus dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ajaran Islam ini adalah ajaran untuk seluruh makhluk.
Mengenai agama Islam yang mulia ini, Allah Ta’ala sendiri berfirman,
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Qs. Ali Imron [3]: 85)
Bagaimana Jika Menghadiri Perayaan Natal?
Adapun seorang muslim memenuhi undangan perayaan hari raya mereka, maka ini diharamkan. Karena perbuatan semacam ini tentu saja lebih parah daripada cuma sekedar memberi ucapan selamat terhadap hari raya mereka. Menghadiri perayaan mereka juga bisa jadi menunjukkan bahwa kita ikut berserikat dalam mengadakan perayaan tersebut.
Bagaimana Hukum Menyerupai Orang Nashrani dalam Merayakan Natal?
Begitu pula diharamkan bagi kaum muslimin menyerupai orang kafir dengan mengadakan pesta natal, atau saling tukar kado (hadiah), atau membagi-bagikan permen atau makanan (yang disimbolkan dengan ’santa clause’ yang berseragam merah-putih, lalu membagi-bagikan hadiah, pen) atau sengaja meliburkan kerja (karena bertepatan dengan hari natal). Alasannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim mengatakan, “Menyerupai orang kafir dalam sebagian hari raya mereka bisa menyebabkan hati mereka merasa senang atas kebatilan yang mereka lakukan. Bisa jadi hal itu akan mendatangkan keuntungan pada mereka karena ini berarti memberi kesempatan pada mereka untuk menghinakan kaum muslimin.” -Demikian perkataan Syaikhul Islam-
Barangsiapa yang melakukan sebagian dari hal ini maka dia berdosa, baik dia melakukannya karena alasan ingin ramah dengan mereka, atau supaya ingin mengikat persahabatan, atau karena malu atau sebab lainnya. Perbuatan seperti ini termasuk cari muka (menjilat), namun agama Allah yang jadi korban. Ini juga akan menyebabkan hati orang kafir semakin kuat dan mereka akan semakin bangga dengan agama mereka.
Allah-lah tempat kita meminta. Semoga Allah memuliakan kaum muslimin dengan agama mereka. Semoga Allah memberikan keistiqomahan pada kita dalam agama ini. Semoga Allah menolong kaum muslimin atas musuh-musuh mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Kuat lagi Maha Mulia.
Fatwa Kedua: Berkunjung Ke Tempat Orang Nashrani untuk Mengucapkan Selamat Natal pada Mereka
Masih dari fatwa Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah dari Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin, 3/29-30, no. 405.
Syaikh rahimahullah ditanya: Apakah diperbolehkan pergi ke tempat pastur (pendeta), lalu kita mengucapkan selamat hari raya dengan tujuan untuk menjaga hubungan atau melakukan kunjungan?
Beliau rahimahullah menjawab:
Tidak diperbolehkan seorang muslim pergi ke tempat seorang pun dari orang-orang kafir, lalu kedatangannya ke sana ingin mengucapkan selamat hari raya, walaupun itu dilakukan dengan tujuan agar terjalin hubungan atau sekedar memberi selamat (salam) padanya. Karena terdapat hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ
“Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167)
Adapun dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkunjung ke tempat orang Yahudi yang sedang sakit ketika itu, ini dilakukan karena Yahudi tersebut dulu ketika kecil pernah menjadi pembantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala Yahudi tersebut sakit, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya dengan maksud untuk menawarkannya masuk Islam. Akhirnya, Yahudi tersebut pun masuk Islam. Bagaimana mungkin perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengunjungi seorang Yahudi untuk mengajaknya masuk Islam, kita samakan dengan orang yang bertandang ke non muslim untuk menyampaikan selamat hari raya untuk menjaga hubungan?! Tidaklah mungkin kita kiaskan seperti ini kecuali hal ini dilakukan oleh orang yang jahil dan pengikut hawa nafsu.
Fatwa Ketiga: Merayakan Natal Bersama
Fatwa berikut adalah fatwa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi) no. 8848.
Pertanyaan:
Apakah seorang muslim diperbolehkan bekerjasama dengan orang-orang Nashrani dalam perayaan Natal yang biasa dilaksanakan pada akhir bulan Desember? Di sekitar kami ada sebagian orang yang menyandarkan pada orang-orang yang dianggap berilmu bahwa mereka duduk di majelis orang Nashrani dalam perayaan mereka. Mereka mengatakan bahwa hal ini boleh-boleh saja. Apakah perkataan mereka semacam ini benar? Apakah ada dalil syar’i yang membolehkan hal ini?
Jawaban:
Tidak boleh bagi kita bekerjasama dengan orang-orang Nashrani dalam melaksanakan hari raya mereka, walaupun ada sebagian orang yang dikatakan berilmu melakukan semacam ini. Hal ini diharamkan karena dapat membuat mereka semakin bangga dengan jumlah mereka yang banyak. Di samping itu pula, hal ini termasuk bentuk tolong menolong dalam berbuat dosa. Padahal Allah berfirman,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Qs. Al Maidah [5]: 2)
Semoga Allah memberi taufik pada kita. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, pengikut dan sahabatnya.
Ketua Al Lajnah Ad Da’imah: Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz
Saatnya Menarik Kesimpulan
Dari penjelasan di atas, kita dapat menarik beberapa kesimpulan:
Pertama, Kita –kaum muslimin- diharamkan menghadiri perayaan orang kafir termasuk di dalamnya adalah perayaan Natal. Bahkan mengenai hal ini telah dinyatakan haram oleh Majelis Ulama Indonesia sebagaimana dapat dilihat dalam fatwa MUI yang dikeluarkan pada tanggal 7 Maret 1981.
Kedua, Kaum muslimin juga diharamkan mengucapkan ’selamat natal’ kepada orang Nashrani dan ini berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim. Jadi, cukup ijma’ kaum muslimin ini sebagai dalil terlarangnya hal ini. Yang menyelisihi ijma’ ini akan mendapat ancaman yang keras sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (Qs. An Nisa’ [4]: 115). Jalan orang-orang mukmin inilah ijma’ (kesepakatan) mereka.
Oleh karena itu, yang mengatakan bahwa Al Qur’an dan Hadits tidak melarang mengucapkan selamat hari raya pada orang kafir, maka ini pendapat yang keliru. Karena ijma’ kaum muslimin menunjukkan terlarangnya hal ini. Dan ijma’ adalah sumber hukum Islam, sama dengan Al Qur’an dan Al Hadits. Ijma’ juga wajib diikuti sebagaimana disebutkan dalam surat An Nisa ayat 115 di atas karena adanya ancaman kesesatan jika menyelisihinya.
Ketiga, jika diberi ucapan selamat natal, tidak perlu kita jawab (balas) karena itu bukanlah hari raya kita dan hari raya mereka sama sekali tidak diridhoi oleh Allah Ta’ala.
Keempat, tidak diperbolehkan seorang muslim pergi ke tempat seorang pun dari orang-orang kafir untuk mengucapkan selamat hari raya.
Kelima, membantu orang Nashrani dalam merayakan Natal juga tidak diperbolehkan karena ini termasuk tolong menolong dalam berbuat dosa.
Keenam, diharamkan bagi kaum muslimin menyerupai orang kafir dengan mengadakan pesta natal, atau saling tukar kado (hadiah), atau membagi-bagikan permen atau makanan dalam rangka mengikuti orang kafir pada hari tersebut.
Demikianlah beberapa fatwa ulama mengenai hal ini. Semoga kaum muslimin diberi taufiko oleh Allah untuk menghindari hal-hal yang terlarang ini. Semoga Allah selalu menunjuki kita ke jalan yang lurus dan menghindarkan kita dari berbagai penyimpangan. Hanya Allah-lah yang dapat memberi taufik.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘alihi wa shohbihi wa sallam.

Friday, January 13, 2012

Ya Allah JadikanLah KeluargaKU Sebuah Keluarga Yang Sakinah

Doa Keluarga Sakinah



Wahai Tuhan kami! Karuniakanlah kepada kami isteri dan keturunan yang menjadi cahaya mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang memelihara dirinya (dari kejahatan) ." (Q.S. Al-Furqaan [25]:74) 


Semoga Allah mengaruniakan kita pendamping terbaik pilihan-Nya, sehingga perjuangan kita dalam meniti kehidupan berumah tangga dalam keadaan terasa indah dan menyejukkan berkat pertolongan dan karnia Allah tersebut. Berumahtangga bukanlah suatu hal yang mudah seperti halnya membalikkan kedua telapak tangan. Jika tidak hati-hati dalam menitinya, baik dalam perencanaan mahupun ketika mengharunginya, ia akan menjadi bahagian dari sebuah penderitaan yang seolah tiada bertepi bagi sesiapa pun yang menjalaninya. 


Sejak awal-awal lagi, Allah SWT memperingatkan kepada setiap orang beriman agar hati-hati dalam hal tersebut, sebagaimana firman-Nya, "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. " (Q.S. At-Taghaabun [64]:14)


Ayat di atas menjelaskan, bahawa mungkin  pasangan yang telah kita pilih untuk mendampingi hidup kita dan anak-anak yang dilahirkannya menjadi musuh bagi diri kita. Ayah dan ibu terhancurkan kehormatan dan harga diri keluarganya karana perilaku dan akhlak buruk yang diperlihatkan anak-anaknya. 


Untuk itu, hal pertama yang harus kita  memohon kepada Allah dengan segala kelemahan diri agar Ia menolong dan mengurniakan kepada kita pendamping terbaik dan anak-anak yang soleh dan solehah. Maka doa yang diperintahkan Allah dalam Alquran untuk hal tersebut adalah, " Wahai Tuhan kami! Karuniakanlah kepada kami isteri dan keturunan yang menjadi cahaya mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang memelihara dirinya (dari kejahatan)." (Q.S. Al-Furqaan [25]:74)


Ciri-ciri  yang dimaksud oleh doa ini adalah isteri yang menyejukkan mata ketika dipandang, dapat menjadi teladan bagi sesiapapun. Ia juga tidak akan pernah memperlihatkan wajah yang muram durja, berbicara marah wajah yang menyeramkan. Akhlaknya akan terlihat jauh lebih indah dibanding kecantikan wajah dan tubuhnya. 


Akhlaknya akan tercermin  perilakunya sehari-hari, baik terhadap suami mahupun orang lain di luar keluarganya. Dia senantiasa menghormati suami, meski suaminya berumur sama dengannya. Kata-kata yang keluar dari mulutnya terasa menyejukkan, bersih, dan penuh kearifan sehingga tidak pernah ada yang terlukai. 


Oleh karena itu, meski ia terus beranjak tua dan berubah karana perjuangannya dalam melahirkan dan membesarkan anak-anak, namun wajahnya tetap terlihat cerah dan bersinar. Hal itu tiada lain karena cerminan dari suasana hati yang senantiasa bersih dan bening. Di samping itu, ia juga akan senantiasa bersyukur, menghadapi setiap kejadian dengan sabar dan yakin akan pelajaran dari Allah. Walahu a'lam.

Friday, January 6, 2012

~Amanah Si Wali Kepada Suami~

Heningnya
Sunyi suasana
Lafaz sakinah bermula
Apa rasa
Diterjemah hanya
Sebak abah tangis ibunda

Adalah aku wali puteriku
Serah kini amanahku ini padamu
Nafkahilah dia curah kasih dan cinta
Lebih dari yang ku berikan kepadanya
Chorus
Dulu esakannya sandar di bahuku
Tangisannya kini ku serah padamu
Bukan bermakna dia bukan milikku
Fitrahnya perlukanmu
Jadikanlah dia wanita syurga
Mengerti benar akan maharnya
Taat itu bukan hanya pada nama
Indah ia pada maksudnya
Ku akur
Akan pesanmu
Puterimu kini amanahku
Iringilah
Dengan doamu
Bahagia kami dari redhamu

http://www.youtube.com/watch?v=Gnua_V91Cxo

Selamat Tahun Baru Hijrah & Tahun Baru Masihi

assalamualaiakum wbt...
alhamdulillah dengan izin allah aku dpt update blOg yg dh lma xupdate..sO sOry cOz bz ngan kje..
alhamdulillah syukur pada allah atas nikmat yg diberikan kpd kita sume..dgn rezeki yg allah limpahkan kita msih dpt bernyawa n menjalankan tugas kita sbg hamba allah n tugas duniawi kita..syukur sgt3 kita dh masOk taun hijrah 1433..dan taun masihi 2012..
alhamdulillah segala puji bagi allah..taun baru ini segalanya bermula dgn baik..smga allah permudahkan segala urusan dunia n akhiratku...amiiin..






berdOa lah..^ ^


selamat tahun hijrah 1433..semOga kita sume hijrah kpd yg lbh baek..^ ^


bye-bye 2011, hello 2012..(sedih jew 2011 dah berlalu)


berubahlah sebelum terlambat..anda mampu mengubahnya..^ ^











Friday, September 16, 2011

Selamat Menyambut Hari Merdeka & Hari Malaysia!!!

assalamualaikum wbt...
bru ada kesempatan n ruang utk mengupdate blOg kesayangan ku ney..hurmmm...
ramadhan dah berlalu dan syawal pown akan berlalu jgk xlama lg..sekejap jew masa bjalan...Ooh masa!
hari ney 16 september 2011 bersamaan 18 syawal 1432 hijrah...kita sume rakyat malaysia dgn rasa bangga menyambut hari kemerdekaan serta hari malaysia...td pg tgk sambutan kemerdekaan lam tv jew..tgk tv3 n tv9...meriah gler!tah bpe ribu peruntukan utk sambut merdeka...hurmm...tp part yg aku pling suke is kawad kaki dri kOntinjen tentera serta perarakkan kereta berhias...suka!Ok lah takat ney dulu...nnty aku update lg..insyallah...merdeka!merdeka!merdeka!
(semOga negara kita benar-benar merdeka n sentiasa dalam rahmat dan keberkatan allah..amiiin)



tranfOrmasi yg dilakukan mmg berjaya tp adakah raykat sejahtera??? (renungkan sejenak)



ketika perarakkan pasukan kOntijen...:)




berbilang kaum! itulah Malaysia!




i`m prOud 2 be a malaysian!

Thursday, September 1, 2011

Kami warga "busy body"

Assalamualaikum semua..

Pepatah Melayu ada mengatakan 'Jangan jaga tepi kain orang' atau dalam bahasa orang sekarang ni busy body. Bagi aku pepatah ni kurang relevan jika dilihat dalam sudut lain. Tidak semua perkara kita kena ikut pepatah ni. Sebab dalam Islam memang ada busy body ni. Cuma pemahaman kita yang cetek ilmu je yang mengatakan tidak. Rasulullah S.A.W berpesan bahawa Mukmin dengan Mukmin yang lain itu ibarat satu badan, bila satu anggota badan sakit, umpama sakit keseluruhan badan. Jadi contoh mudah nya kalau kita luka ditangan, secara automatiknya kita letak ubat di tempat luka itu. Maknanya kita ambil berat tangan yang luka itu. Sama juga dengan umat Islam, jika ada yang dalam kesusahan, kita dengan senang hati membantu. Itulah namanya busy body.



Tapi masyarakat kita sekarang ni anggap busy body tu seperti perkara yang paling dibenci. Mereka tak suka orang sibuk hal hidup dia, masing-masing sendiri2 ambil tahu. Tapi bila dalam susah, pandai pulak mintak tolong. Aihh. Tu namanya tak malu. Kadang2 dalam satu taman perumahan, jiran sebelah rumah pon tak habes kenal. Ni kan pula row belakang dan depan rumah, confirm tak kenal langsung. Sebab apa? Sebab takde kesedaran betapa pentingnya menjalin ukhuwah sesama sedara se-Islam khususnya. Pendek kata macam kera sumbang.

Yang atas tu kes pertama, kes yang kedua pulak kalau bab nasihat ni. Bila kita nasihat , dengan kesatnya mereka menjawab "Heyy, kubur kita lain-lain. Kalau kena seksa pon aku, bukan kau. Kau takpayah nak nasihat aku. Nanti pandai2 lah aku jawab dekat sana nanti !!".. Haa, selalu kan dengar ayat drama nih. Jawapan aku bagi orang yang macam ni adalah "Sebab kubur lain-lain la aku nasihat kau. Kalau kubur kita sebelah2, bila kau kena seksa, tak ke mengganggu aku dekat sebelah tu". haha. Orang macam ni kita kena perli habes-habes. Baru dia nak sedar. Tapi sebelum tu gunalah cara nak lemah lembut dulu. Kalau tak makan saman, kita guna cara keras sikit.

Itulah sedikit sebanyak realiti kehidupan hari ini. Anda mahu jadi warga "busy body" ? Jom sertainya beramai-ramai. Kita bukan busy body pada yang sia-sia, tetapi kita busy body kerana sayangkan sedara sesama kita.Yang ma'ruf kita sebarkan, yang mungkar kita tentang. Kerana berdiam diri hanyalah merugikan Islam.



Seperti dalam hadis Rasulullah ini:

عَنْ اَبِى سَعِيدِ الْخُدْرِي قَالَ سَمِعْتُ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرهُ بِيَدِهِ
فَاِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَاِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ
فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ اَضْعَفُ الاِيمَانِ

Daripada Abu Said al Khudri r.a. katanya : Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda :
"Sesiapa dikalangan kamu yang melihat kemungkaran maka hendaklah dia mencegah dengan tangannya sekiranya dia tidak mampu hendaklah dia menegah dengan lidahnya, sekiranya dia tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.


(Hadis sahih riwayat Muslim)





p/s: http://memadamkomplikasi.blogspot.com

ke mana destinasi kita selepas ramadhan???

'Kuala Lumpur kiri, Kajang kanan' tertera di signboard tepi jalan. Apa tujuan signboard ni? Dah tentu sebagai arah pandu kita menuju ke destinasi yang dituju. Soalan aku untuk hidup kita pula, 'Ke mana destinasi hidup kita selepas Ramadhan?'. Soalan ni harus terbit di benak setiap insan yang bernama Islam. Yang mengaku beriman dengan Allah dan Rasul-Nya. Adakah sempurna tarbiyyah Ramadhan kita tahun ni? Apa perubahan kita? Apa matlamat selepas Ramadhan? Soal ibadah pula bagaimana? Minda kita harus diajukan soalan-soalan seperti ini supaya kita sentiasa beringat.


Istiqamah.
Kalau signboard tadi penentu arah tuju kita di jalanan raya, apa pula arah tuju kita di jalanan dunia menuju akhirat? Jawapannya perlu ada iman. Iman yang mantap mengelakkan kita dari tergelincir ke lembah kemaksiatan dan sia-sia. Mana nak dapat iman yang mantap? Contoh terdekat adalah Ramadhan. Selama sebulan kita disekolahkan, takkan takde sedikit manfaat kita peroleh. Aku rasa bulan Ramadhan ni sudah cukup untuk membentuk iman yang mantap. Itu pun kalau kita bersungguh-sungguh nak berubah. Mungkin kalau tak banyak , sedikit pun sudah bagus untuk perubahan diri. Sebab yang penting adalah Istiqamah. Istiqamah kita untuk berubah ke arah kebaikan.

Mungkin sebelum ni ada yang hobinya meninggalkan solat fardhu, tapi dibulan Ramadhan cukup lima waktu sehari semalam. Ada juga yang berjaya meninggalkan ketagihan merokok di bulan Ramadhan. Ini sudah bagus, dan harap berkekalan la di bulan seterusnya. Tak guna puasa sebulan di bulan Ramadhan, tapi bila berakhirnya Ramadhan, satu hape pun kita tak dapat dari tarbiyyah Ramadhan tu.



Tukar persepsi.
Jika sebelum ni kita hanya anggap Ramadhan ni hanya bulan puasa. Tak puasa berdosa. Mungkin ada yang puasa sebab terpaksa, malu jika tak berpuasa. Ada jugak yang dalam fikiran "Bulan Ramadhan ni kita stop buat kerja jahat, habes je puasa ni kita sambung balek", "bulan puasa ni aku nak pakai tudung, nanti lepas Ramadhan bukak la", "Kiah, bulan ni kita stop Melodi kita ea, sambung Syawal nanti". Ya, mereka menghormati bulan Ramadhan tapi hanya sekadar menghormati tak cukup. Contoh mudah:


"Kita hormat makayah kita. Di depan mereka kita buat baik. Tapi diluar sana kita berperangai tak tentu hala. Di depan makayah kita jaga adab, tapi diluar sana adab kita hilang. Di depan makayah kita...Ermm.. tapi sedarkah kita yang sebenarnya kita dah memalukan makayah kita? Walaupun kita baik depan makayah kita. Tapi pandangan orang, makayah kita tak reti jaga anak. Anak jahat. Buat benda tak senonoh. Sapa yang malu? Sapa yang dapat aib? Makayah kita jugak".

Sama jugak dengan mereka yang hanya menghormati bulan Ramadhan tapi dibulan lain kembali berbuat kejahatan, bagi aku mereka sebenarnya telah menghina Ramadhan itu sendiri. Hanya berpura-pura baik ketika bulan puasa, tapi dibulan lain melakukan perkara yang bertentangan dengan Islam. Yang buruk nama Islam itu sendiri. Yang rosak martabat Islam itu. Dan yang dapat malu, umat Islam itu sendiri. Kita kata kita sayangkan Islam, tapi di suatu masa kita yang membiarkan Islam jatuh. Apa guna tarbiyyah jika diri sendiri tidak mahu berubah. Fikir-fikirkan...



Tentu arah.
Sementara masih ada sisa-sisa Ramadhan yang kita akan jalani ni, tanamkanlah niat dan harapan kita untuk perubahan. Segala perubahan di Ramadhan kali ini diteruskan dibulan lain sehingga datangnya Ramadhan yang akan datang. Teguhkan iman kerana perjalanan menuju ke Ramadhan yang akan datang terlampau panjang. Banyak onak duri kejahatan dan ombak badai maksiat yang harus kita tempuhi. Hidup ini hanya sementara, akhirat kekal abadi. Usia hanya pinjaman, manfaatkan sepenuhnya.


Maka sama-samalah kita berdoa agar perubahan kita di bulan Ramadhan ni dirahmati Allah. Dipanjangkan usia untuk dapat beramal, dapat bertaubat sebelum terlambat. Amiin.